Banjir Produk Herbal Import, Depot Jamu Perlu Paham Standar BPOM

SOLO – Membanjirnya produk jamu herbal mengandung bahan kimia dan jamu import dengan berbagai khasiat yang dijanjikan, dikhawatirkan menggerus kepercayaan terhadap masyarakat terhadap jamu tradisional produksi dalam negeri.

Selain itu, produk keberadaan produk – produk jamu tersebut, mayoritas tidak terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sehingga jika dikonsumsi dalam jangka panjang justru membahayakan kesehatan konsumen.

Pentingnya mengedukasi masyarakat, oleh PT Air Mancur, salah satu perusahaan jamu tradisional ternama di Indonesia diupayakan dengan cara mengumpulkan ratusan depot jamu se Soloraya dalam sebuah acara ghatering di Hotel Fave, Solo pada Minggu (24/3/2019) kemarin 

“Acara ini merupakan salah satu bentuk kepedulian dan penghargaan kami kepada pedagang jamu khususnya depot jamu yang merupakan rantai penting pendistribusian produk hingga sampai ke tangan konsumen,” terang Agung Pribadi Daga, Area Promotion Head Jateng-DIY, PT Air Mancur kepada awak media

Selain sebagai ajang silaturahmi serta jajak pendapat mengenai perkembangan obat herbal di Jawa Tengah. Agung mengatakan, selama ini depot jamu adalah salah satu ujung tombak pengenalan jamu kepada pelanggan.

“Kami ingin mengenalkan kembali beberapa varian produk yang merupakan discontinue (semula tak diproduksi lagi-Red), sekarang kami produksi lagi seperti, jamu kolesom, salesma dan beberapa lainnya,” sebutnya

Selain sudah terdaftar di BPOM, Agung juga menjelaskan bahwa produk jamu PT Air Mancur standardnya sudah bertaraf internasional dengan ISO 9001 : 2015, tentang sistem manajemen mutu yang memastikan pedoman operasional terbaik untuk menghasilkan produk berkualitas sehingga bisa diterima oleh masyarakat Indonesia dan dunia.

“Sebelumnya, kami sudah meraih sertifikat CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional Baik) terlengkap di Indonesia, dan sertifikat halal MUI, sehingga masyarakat Indonesia yang mayoritas umat muslim tidak perlu ragu lagi,”ujarnya

Tak hanya itu, penerapan standart GMP (Good Manufacturing Practice) yang menjamin kebersihan dan higienitas dari semua rangkaian proses produksi sampai pengemasan, dijelaskan Agung, semua dilakukan dengan mesin higienis. 

“Harapan kami dengan acara ini, depot jamu akan semakin merasa yakin, aman dan nyaman dalam menjual ke konsumen. Setidaknya, mereka juga bisa ikut memberi informasi tentang produk jamu tradisional yang baik,” kata Agung

Sebagai gambaran, kebutuhan industri obat herbal di Indonesia diperkirakan akan meningkat berlipat dengan permintaan pangan fungsional. Salah satunya terlihat dari tren mengonsumsi obat herbal di masyarakat yaitu salah satunya jamu.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2010 menunjukkan lebih dari separuh penduduk Indonesia mengonsumsi jamu, dan 95 persen menyatakan jamu bermanfaat untuk kesehatan. Bahkan Kementrian Perindustrian juga menyatakan omzet industri obat herbal nasional di 2011 telah mencapai Rp 11 triliun, dan meningkat hingga Rp 20 triliun pada 2015.

‚ÄúTren kembali ke alam juga gencar disuarakan dunia internasional, sehingga permintaan terhadap produk herbal semakin meningkat di negara maju maupun berkembang,”pungkasnya.(Djoyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *